Medsos: Godaan bagi Para Pastor dan Kaum Berjubah Lainnya (4)

0
1,609 views
Narasumber Romo Oki Dwihatmanto OFM dari Novisiat Fransiskan di Depok bersama para suster yang menjadi peserta seminar tiga hari bertema "Kaum Religius di Zaman Digital" di Rumah Retret Wisma Immaculata Pontianak. (Ist)

INI sebuah contoh narasi kekecewaan.  “Sehebat apa pun perkembangan ilmu pengetahuan, ternyata manusia masih tidak pernah akan mampu memahami realitas secara utuh,” demikian Romo Oki Dwihatmanto OFM menjelaskan.

Eforia kemajuan ilmu pengetahuan mulai redup, jelasnya, ketika produk-produk ilmu pengetahuan itu  ternyata  tidak berhasil secara signifikan meningkatkan kesejahteraan atau kebahagiaan masyarakat.  Apalagi ketika dampak kerusakan  lingkungan mulai masif dirasakan semua orang.  Ilmu pengetahuan tampak tidak mampu mengatasinya.

Inilah waktunya ketika banyak orang mulai apatis dengan manfaat ilmu pengetahuan itu sendiri. Kemajuan ilmu kedokteran misalnya, walau sangat pesat, namun jumlah penyakit yang dapat diantisipasi tidak tampak berkurang. Penyakit-penyakit baru selalu muncul (AIDS, virus ebola, kanker).

Baca juga:  Medsos di Balik Jubah Kaum Religius: 85 Suster, Bruder, Frater, Imam Muda Belajar Bijak Cermati Tanda-tanda Zaman (3)

Para suster medio-yunior SFIC diajak bersikap bijak dan kritis bermain medsos namun tetap aktif ikut dalam misi suci Gereja dalam pewartaan kabar baik dan kabar gembira. Inilah satu pesan penting sepanjang seminar tiga hari bertema “Kaum Religius di Zaman Digital” di Rumah Retret Wisma Immaculata Pontianak, 29-31 Mei 2017.

Ilmu ekonomi berkembang pesat, tapi masih banyak  orang mengalami kelaparan. Manusia juga berdaya  mampu menangkal bencana alam. Lalu, meningkatnya fenomena bunuh diri di negara maju.

Aneh ya,  negara maju dengan segala kemapanan, tetapi angka bunuh diri meningkat.

Pendapatan per kapita tinggi, tunjangan hidup, jaminan kesehatan, jaminan sosial. Kompas 12 juli 2013 dan WHO 2012 mencatat data demikian.  Satu juta orang tewas bunuh diri di seluruh dunia per tahun. Percobaan bunuh diri bisa 10 atau 20 kali lipat.

Angka ini jauh lebih besar dari pada penggabungan korban tewas akibat perang dan pembunuhan di masa ini. Fenomena ini belum pernah terjadi di masa sebelumnya dimana selalu lebih banyak orang mati karena orang lain (perang, kriminal) daripada dibunuh oleh diri mereka sendiri.

Menjadi nabi  

“Bangunkanlah dunia… Seorang religius tidak boleh menyangkal sifat kenabiannya.” Ini adalah seruan Paus Fransiskus kepada para superior general dalam suatu pertemuan di Roma.

Religius dipanggil menjadi duta pewarta Injil dengan penuh suka-cita dan kegembiraan. Menjadi nabi: memperbaharui tanda persaudaraan, minoritas, kemiskinan, kerendahan hati dan kegembiraan.

“Ini tidak dapat ditawar-tawar lagi. Tekanan harus pada menjadi nabi dan bukan berlagak seperti seorang nabi… Para religius, laki-laki dan perempuan adalah orang yang menyinari masa depan… Seorang religius tidak boleh menyangkal sifat kenabiannya… Kharisma itu ragi: kenabian mewartakan roh, semangat Injil”. (Paus Fransiskus kepada para Superior General).

Kaum muda bahagia diajak menjadi pewarta kasih dan penyebar kabar gembira dalam Gereja melalui tarekat religius mereka masing-masing.

Romo Oki OFM menjelaskan, setiap hidup religius itu mengemban semangat profetis (kenabian). Hidup religius menjadi tanda transparan, manifestasi, kesaksian, pewartaan, bayangan dari masa depan. Referensinya adalah Vita Consecrata.

Kaul religius juga menjadi ciri kenabian sekaligus tantangan.  Ini terapi rohani bagi orang zaman sekarang (VC 87-92). Hidup bakti sungguh merupakan sebuah peringatan yang hidup dari cara hidup dan bertindak dari Yesus sebagai Sabda Yang Menjelma menjadi manusia, dalam relasi-Nya dengan Bapa dan dalam hubungan-Nya dengan para saudara (VC 22).

Cara hidup mereka pun harus dengan jelas memperlihatkan cita-cita yang telah mereka profesikan, dan dengan demikian hidup itu menampilkan diri sebagai tanda yang hidup dari Tuhan dan sebagai sebuah pewartaan Injil kendati sering dalam sikap yang diam (VC 25). Berkat kharisma-kharisma mereka,  maka orang-orang itu menjadi tanda adanya Roh yang mengarahkan pada masa depan yang baru, yang diterangi oleh iman dan pengharapan kristiani (VC 27).

“Setiap nabi perlu mewartakan sabda Allah karena kerajaan Allah bukan hanya untuk diri sendiri tetapi dibagikan dengan orang lain. Pewarta tidak selalu dengan kata-kata tetapi kehadiran juga merupakan bagian dari isi pewartaan” tambah Romo Oki OFM menambahkan.

Ciri-ciri kenabian itu sebagai berikut. Keinginan selalu mengadakan pembaharuan. Bukan statis melainkan dinamis dan memproyeksikan diri ke arah masa depan Allah, Menjaga keharmonisan antara kelembagaan dan Injil.

Baca juga:  Belajar Bijak Sikapi Medsos: 85 Suster, Bruder, Frater, Imam Lintas Tarekat Kumpul di Pontianak 29-31 Mei 2017 (2)

Rehat sejenak di tengah berlangsungnya seminar bertema “Kaum Religius dan Dunia Digital” dengan 85 orang peserta terdiri para suster, bruder, frater, dan imam yunior-media lintas ordo dan tarekat religius. (Ist)

Godaan pekerja pastoral

Pada sesi ke-4,  Romo Oki OFM membagi sedikit pengalamannya terkait hal dalam menghadapi godaan-godaan sebagai gembala umat.

1. Tantangan spiritualitas misioner

Kebebasan pribadi dan hidup santai, karya sebagai tambahan belaka, olah kerohanian yang memberi kenyamanan tertentu tetapi tidak mendorong perjumpaan dengan sesama.

Akibatnya: penekanan pada individualisme, krisis identitas, kendurnya semangat. Relativisme terkait dengan keputusan terdalam yang membentuk hidup.  Seolah-olah Allah tidak ada, orang miskin tidak ada, orang lain tidak ada.

Bentuk nyata: kelekatan pada keamanan finansial, keinginan untuk berkuasa atau kemuliaan manusiawi. Media dan skeptisme, sinisme atas pesan Gereja. Rendah diri dengan selalu ingin menyembunyikan identitas kristiani. Akibatnya: tidak bahagia, melemahnya komitmen, memadamkan sukacita pengutusan, obsesi menjadi seperti orang lain.

2. Keegoisan dan kemalasan rohani

Situasi: awam takut bila diminta melakukan karya kerasulan; imam terobsesi melindungi waktu senggang mereka. Bukan pada kegiatan yang berlebihan, kegiatan yang dilakukan kurang baik, tanpa motivasi, tanpa spiritualitas yang meresapi.

Akibatnya: pelayanan menjadi melelahkan, menimbulkan ketegangan, kekecewaan. Ancaman terbesarnya adalah pragmatisme abu-abu dalam hidup harian Gereja.

3. Hubungan-hubungan baru

Kemajuan sarana teknologi komunikasi. Tantangan: hidup bersama, berbaur dan bertemu, saling merangkul dan mendukung. Kecenderungan: menjauhkan diri dari yang lain dan berlindung dalam kenyamanan pribadi (kelompok kecil pertemanan), membangun hubungan interpersonal yang disediakan oleh peralatan canggih. Pencarian batin sendiri: spiritualitas kesejahteraan, teologi kemakmuran.

4. Keduniawian rohani

Bersembunyi di balik penampilan kesalehan. Bahkan berbuat kasih kepada Gereja namun mencari bukan kemuliaan Allah melainkan kemuliaan manusia dan kesejahteraan pribadi.

Dipupuk dalam dua cara yang saling terkait. Gnostisisme: iman subjektif murni yang hanya mementingkan pengalaman tertentu atau serangkaian gagasan pengetahuan yang menghibur. Neo-pelagianisme promothean yang mengandalkan diri sendiri sehingga akhirnya hanya percaya kepada kekuatan mereka sendiri.

Semua itu tampak dalam sejumlah sikap:

  • Perhatian berlebihan pada liturgi, doktrin, dan gengsi akan Gereja, tetapi tanpa peduli agar Injil berdampak nyata bagi umat.
  • Pencapaian sosial politik atau kebanggaan pada kemampuan mereka untuk mengatur hal-hal praktis.
  • Kehidupan sosial yang banyak diisi dengan banyak perjalanan, pertemuan, makan malam, resepsi.
  • Sibuk dengan manajemen, statistik, rencana dan evaluasi yang manfaatnya bukan untuk umat melainkan institusi Gereja.

5. Perang antar kita

Betapa banyak perang terjadi di tengah umat Allah dan dalam pelbagai komunitas kita. Penyebab: iri hati, cemburu, meluasnya individualisme.

Permintaan Paus Fransiskus: “memberikan kesaksian yang memancar dan berdaya pikat tentang persekutuan persaudaraan”.

Baca juga:  Pontianak: Mencermati Medsos, Hoax, dan Media Mainstream bersama 85 Suster, Bruder, Frater, Imam Lintas Tarekat (1)

6. Klausura dan gawai

Klausura adalah suatu bagian dari rumah biara yang dikhususkan bagi para anggota sendiri” (KHK 667§ 1). Maksud dan tujuan,  privasi dan kaul kemurnian

 7. Persoalan aktual zaman ini

Materi terakhir Rm. Oky OFM  mengambil inspirasinya dari sebuah kisah bapak spiritual Fransiskan: St. Fransiskus Asisi.

  • Dimana kalian tinggal, dimana biara kalian?

Suatu ketika Fransiskus dan saudara-saudaranya mendaki sebuah gunung. Di sana Tuan Puteri Kemiskinan telah menanti mereka. Ketika Fransiskus dan saudara-saudaranya tiba,  ia sangat gembira lalu memeluk mereka, satu demi satu, dan kemudian duduk makan bersama mereka. Mereka bertukar pengalaman tentang Allah dan dunia. Selesai makan, mereka berjanji saling setia sampai kekal. Tuan Puteri Kemiskinan bertanya kepada mereka, “Di mana kalian tinggal?” “Di mana biara kalian?”.

  • Biara kami adalah seluruh dunia.

Saudara-saudara itu tidak tahu apa itu biara,namun dengan merentangkan tangan ke seluruh dunia mereka berkata, “Inilah, Tuan Puteri, biara kami”. Generasi pertama saudara-saudara dina hidup mengembara, menjadi musafir dan perantau sambil mewartakan pertobatan. Karena itulah,  ketika ditanya tentang biara, mereka tidak tahu. Bukan hanya tidak tahu di mana biara mereka –mereka tidak memiliki biara – tetapi bahkan tidak tahu apa itu biara. Kalau biara saja mereka tidak tahu, maka sangat mungkin bahwa para saudara generasi awal itu juga tidak mengenal klausura. Mereka hidup lepas bebas sebagai anak-anak Allah, tidak terikat oleh suatu tempat sehingga dengan ringan bisa mengatakan “biara kami adalah seluruh dunia”.

8. Aktual di era globalisasi

Di era globalisasi dan digitalisasi ini, seruan tersebut menjadi sangat aktual. “Biara kami adalah seluruh dunia”.

Seruan ini tentu tidak bermaksud atau tidak didasari semangat untuk menghakimi, memiliki atau menguasai dunia. Sekarang dunia ini sudah seperti menjadi sebuah “kampung kecil”, tidak ada lagi batas-batas dan sekat. Apa yang terjadi di suatu daerah terpelosok, bisa segera tersebar ke segala penjuru dunia. Hal yang bersifat pribadi, begitu terekspose di media sosial, bisa langsung bergulir bak bola liar.

Fun games untuk menghilangkan kejenuhan saat di tengah rehat seminar selama tiga hari di Rumah Retret Wisma Immaculata Pontianak.

9. Klausura vs gawai

Tembok biara dan hukum klausura pun bisa ditembus. Kemajuan teknologi komunikasi telah memungkinkan untuk menembus sekat dan batas yang ada tersebut. Ini dimungkinkan dengan gawai canggih yang sudah bukan barang asing bagi para saudara.

Dengan berbagai program yang ada saat ini, tidak susah untuk menghadirkan orang lain dalam ruang privat. Dengan BBM, WhatsApp, Line, Kakaotalk orang bisa “ngobrol” dan bertukar gambar atau foto atau bahkan video tentang apa saja. Bahkan dengan program video call seperti Skype, YM, orang bisa ngobrol jarak jauh dengan saling bertatap muka.

Mungkin secara fisik orang tidak naik ke lantai atas yang merupakan area klausura. Tetapi secara audio, visual dan emosi mereka tetap bisa merayap bahkan sampai kamar-kamar pribadi.

Jarak sosial

  •  Pada jarak intim (sekitar 0-45 cm), terjadi keterlibatan intensif panca indera dengan tubuh orang lain. Contoh jarak intim terdapat pada dua orang yang melakukan olahraga sumo dan gulat. Apabila seseorang terpaksa berada dalam jarak intim, seperti di dalam bus atau kereta yang penuh sesak, ia akan berusaha sebisa mungkin menghindari kontak tubuh dan kontak pandangan mata  dengan orang di sekitarnya.
  • Jarak pribadi (sekitar 45 cm-1.22 cm) cenderung dijumpai dalam interaksi antara orang yang berhubungan dekat, seperti antara ibu dan anak.
  • Pada jarak sosial (sekitar 1.22 m-3.66 m), orang yang berinteraksi dapat berbicara secara wajar dan tidak saling menyentuh. Contoh, interaksi dalam pertemuan santai (dengan teman, guru, dan sebagainya). Interaksi di dalam rapat pekerjaan formal juga masuk ke dalam jarak ini.
  • Jarak publik (di atas 3.66 m) umumnya dipelihara oleh orang yang harus tampil di depan umum, seperti politisi dan aktor.  Semakin jauh jarak, semakin keras pula suara yang harus dikeluarkan. Kata dan kalimat pun harus dipilih secara saksama.

Menutup seminar ini,  Romo Oki OFM memberi buah-buah seminar dengan mengutip kata-kata dari Bapa St. Fransiskus Asisi: “Dunia adalah biaraku, tubuhku adalah kamarku,  dan jiwaku adalah pertapaanku.”

Kalau demikian, kiranya klausura yang tepat di masa sekarang bukan lagi sekedar lantai atas akan tetapi dan lebih-labih adalah tubuhku. Klausura ini perlu dijaga melalui diskresi di otak, tapi lebih-lebih di hati. Begitu ia lalu menutup seminar ini dengan tepuk tangan meriah dari para peserta.

Terima kasih Romo Oki OFM atas sumbangan spiritual yang sangat memperkaya kami dalam menghidupi semangat hidup panggilan kami di zaman digital. (Selesai)

Sumber: Materi paparan Romo Oki Dwihatmanto OFM

Para peserta seminari tiga hari bertema “Kaum Religius di Zaman Digital” sebagai bagian program ongoing formation dari Forum Kerjasama Religius Kalbar (FKRK) untuk para suster, bruder, frater, dan imam muda-medior lintas tarekat. Program berkala ini berlangsung di Rumah Retret Wisma Immaculata Pontianak, 29-31 Mei 2019, dengan dua narasumber dari Gerakan Words2Share dan Novisiat OFM Depok. (Mathias Hariyadi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here