Gereja Paroki Siem Reap, Kamboja: Satu Romo untuk 500 Umat Katolik (1)

3
3,398 views

DI Indonesia, sangatlah jamak sebuah paroki memiliki jumlah umat tak kurang dari 10 ribu orang. Tapi di Kamboja, khususnya di Paroki Saint John’s Siem Reap, jumlah 10 ribu umat jelas merupakan sebuah kemewahan ruaar…biasa. Masalahnya, di paroki di pusat tujuan wisata Angkor Watt ini tercatat jumlah umatnya lebih kurang hanya 500 orang saja.

Dari angka 500 itu bisa dikelompokkan menjadi tiga ‘kategori’. Sebanyak 50% terdiri dari umat katolik asli ‘putra daerah’ alias orang-orang katolik Kamboja. Sebanyak 40% lainnya datang dari umat katolik ‘warga pendatang’ yakni orang-orang Viet Nam yang sudah lama tinggal menetap di Siem Reap.

“Sisanya ya baru kita-kita ini alias ‘turis’ manca negara,” tutur Romo Stephanus Winarta SJ, imam yesuit asli Indonesia yang kini menjadi pastor satu-satunya di Paroki Saint John’s Siem Reap menjawab Sesawi.Net, Minggu (29/8) 2011 malam.

Umat katolik berlabel ‘turis’ manca negara ini datang ke Siem Reap tentu saja untuk urusan wisata. Kompleks Candi Angkor Watt merupakan magnit kuat yang membuat Siem Reap menjadi bersinar bagi kelompok ini. Sembari berwisata, beribadah memuji kebesaran Tuhan dengan menghadiri misa harian atau mingguan boleh dibilang ‘acara tambahan’ saja.

Tak mengapa, toh tujuannya baik.

Begitulah yang Sesawi.Net bisa rasakan, ketika hadir mengikuti misa harian di Paroki Saint John’s Siem Reap bersama Romo St. Winarta SJ yang dihadiri tak kurang 20 orang umat. Ada 4 orang ‘turis’ dari Indonesia; 4 lainnya dari Filipina; 1 dari Barat; 10 suster Misionaris Cinta Kasih, dan lainnya adalah warga umat lokal.

Karena urusannya soal memuji kebesaran nama Tuhan, maka tak terlalu menjadi hambatan ketika Romo Panus –begitu pastur yesuit Indonesia asal Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah- ini membawakan misa dalam bahasa Khmer.  Namun berbeda dengan tradisi misa di Indonesia dimana orang suka bersalaman memberikan ‘Salam Damai’, maka umat katolik di Paroki Siem Reap ini melakukan hal itu dengan lebih sederhana: cukup menyilangkan tangan dan memberi hormat dengan sedikit menundukkan kepala atau membungkukkan badan. (Bersambung)

Mathias Hariyadi, melaporkan dari Siem Reap, Kamboja.

Photo credit: Royani Lim, Mathias Hariyadi

Artikel terkait:

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here